Sunnah-Sunnah Hari Jumat

Picture of Masjid Pogung Dalangan

Masjid Pogung Dalangan

Sunnah-Sunnah Hari Jumat (Bag: 1) 

Hari Jumat merupakan hari yang memiliki kedudukan agung dalam Islam. Ia disebut sebagai sayyid al-ayyām (penghulunya hari-hari), dan pada hari itulah umat Islam diwajibkan melaksanakan shalat Jumat secara berjamaah. Selain kewajiban tersebut, syariat Islam juga menetapkan sejumlah sunnah dan adab yang dianjurkan untuk dilaksanakan pada hari Jumat, sebagai bentuk penyempurnaan ibadah seorang Muslim. Berikut adalah beberapa sunnah dihari jum’at yang selayaknya perlu diperhatikan:

  • Disunnahkan bersegera pergi shalat Jumat untuk mendapatkan pahala besar.
    Dalam hadits Abu Hurairah –raḍiyallāhu ‘anhu– Rasulullah ﷺ bersabda:

(من اغتسل يوم الجمعة غسل الجنابة، ثم راح في الساعة الأولى، فكأنما قَرَّب بدنة، ومن راح في الساعة الثانية فكأنما قَرَّب بقرة، ومن راح في الساعة الثالثة فكأنما قَرَّب كبشاً أقرن، ومن راح في الساعة الرابعة فكأنما قَرَّب دجاجة، ومن راح في الساعة الخامسة فكأنما قَرَّب بيضة، فإذا خرج الإمام حضرت الملائكة، يستمعون الذكر)

“Barang siapa mandi pada hari Jumat seperti mandi janabah, kemudian berangkat pada jam pertama, maka seakan-akan ia berkurban seekor unta; dan barang siapa berangkat pada jam kedua, maka seakan-akan ia berkurban seekor sapi; dan barang siapa berangkat pada jam ketiga, maka seakan-akan ia berkurban seekor kambing bertanduk; dan barang siapa berangkat pada jam keempat, maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam; dan barang siapa berangkat pada jam kelima, maka seakan-akan ia berkurban sebutir telur. Apabila imam keluar (untuk khutbah), para malaikat hadir mendengarkan dzikir (khutbah).”
(HR. al-Bukhari no. 881, Muslim no. 850, dan keduanya sepakat atas keshahihannya).

Beliau ﷺ juga bersabda:

(من غَسَّلَ يوم الجمعة واغتسل، وبَكَّر وابتكر، كان له بكل خطوة يخطوها أجر سنة صيامها وقيامها)

“Barang siapa mandi pada hari Jumat, lalu bersegera dan berangkat lebih awal, maka untuk setiap langkah yang ia tempuh, dicatat baginya pahala satu tahun: pahala puasanya dan pahala qiyamnya.”
(HR. at-Tirmidzi no. 496, dinyatakan hasan oleh beliau, dan juga oleh al-Mundzirī dalam at-Targhīb wa at-Tarhīb 1/247).

Ibnul Qayyim Rahimahullah berkata: “Karena hari Jumat di antara hari-hari dalam sepekan seperti hari raya di antara hari-hari dalam setahun, dan hari raya mengandung shalat serta kurban, maka hari Jumat yang merupakan hari shalat, Allah jadikan bersegera ke masjid sebagai pengganti kurban, dan menempati kedudukannya. Maka orang yang berangkat di hari itu memperoleh pahala shalat sekaligus kurban.” (Zād al-Ma‘ād 1/398).

Adapun orang yang datang ke masjid setelah khatib naik mimbar, maka ia tidak mendapatkan pahala bersegera, sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

(فإذا خرج الإمام حضرت الملائكة يستمعون الذكر)

“Apabila imam keluar (naik mimbar), para malaikat hadir mendengarkan dzikir (khutbah).” (HR. al-Bukhari no. 881).

  • Disunnahkan pergi shalat Jumat dengan berjalan kaki.

Hal itu karena berjalan lebih menunjukkan kerendahan hati, serta setiap langkah diangkat derajatnya dan dihapuskan kesalahannya. Diriwayatkan dari Nabi ﷺ:

“من غسل يوم الجمعة واغتسل، ثم بَكَّر وابتكر، ومشى ولم يركب، ودنا من الإمام فاستمع ولم يَلْغُ، كان له بكل خطوة عمل سنة أجر صيامها وقيامها”

“Barang siapa mandi pada hari Jumat, lalu berangkat lebih awal, berjalan (tidak naik kendaraan), mendekat kepada imam, mendengarkan khutbah dan tidak melakukan laghw (perbuatan sia-sia), maka baginya untuk setiap langkah pahala satu tahun: pahala puasanya dan qiyamnya.”
(HR. Ahmad 4/104 no. 10073, Abu Dawud no. 345, dinyatakan shahih oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud 2/176-177).

Imam an-Nawawi Rahimahullah berkata menanggapi hadits ini:“Para ulama Syafi‘iyyah, para sahabat mereka, dan selain mereka sepakat bahwa disunnahkan bagi orang yang menuju Jumat untuk berjalan kaki dan tidak menaiki kendaraan kecuali ada uzur seperti sakit dan semisalnya.” (al-Majmū‘ 4/543-544).

  • Disunnahkan mandi pada hari Jumat.

Sebagaimana hadits Abu Hurairah yang lalu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ غُسْلَ الجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الخَامِسَةِ، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ المَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ».

Barangsiapa mandi pada hari Jumat seperti mandi janabah, kemudian pergi (lebih awal), maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor unta. Barangsiapa pergi pada jam kedua, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor sapi. Barangsiapa pergi pada jam ketiga, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor kambing jantan bertanduk. Barangsiapa pergi pada jam keempat, maka seakan-akan ia berkurban dengan seekor ayam. Barangsiapa pergi pada jam kelima, maka seakan-akan ia berkurban dengan sebutir telur. Maka apabila imam telah keluar (untuk berkhutbah), para malaikat pun hadir untuk mendengarkan zikir (khutbah).” (HR. al-Bukhari (no. 881) dan Muslim (no. 850)

Hal ini sangat dianjurkan, terlebih bagi orang yang memiliki bau tidak sedap. Sampai sampai sebagian ulama bahkan mewajibkannya, berdasarkan hadits Abu Sa‘id al-Khudrī –raḍiyallāhu ‘anhu– bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

(غسل الجمعة واجب على كل محتلم)

“Mandi pada hari Jumat itu wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.” (HR. al-Bukhari no. 879, Muslim no. 846).

Adapun waktu mandi dimulai sejak terbit fajar hari Jumat hingga tergelincir matahari (zawal). Dan yang lebih utama adalah mendekatkannya dengan waktu berangkat ke masjid, agar lebih efektif menghilangkan bau tidak sedap. (al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh, az-Zuhaylī 2/1323).

  • Disunnahkan bersiwak pada hari Jumat.

Siwak adalah batang kecil atau alat pembersih gigi. Bersiwak pada hari Jumat disepakati hukumnya sunnah oleh empat mazhab.

Ibn Rusyd berkata:

(آدابُ الجُمعةِ ثلاثةٌ: الطِّيبُ، والسِّواكُ، واللِّباسُ الحَسَن، ولا خلافَ فيه؛ لورودِ الآثارِ بذلك)

“Adab-adab Jumat ada tiga: memakai wewangian, bersiwak, dan mengenakan pakaian terbaik. Tidak ada perbedaan pendapat tentang hal ini, karena adanya atsar-atsar yang menunjukkan hal itu.” (Bidayat al-Mujtahid 1/166).

Dalam hadits Abu Sa‘id disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda:

“(Beliau) bersiwak,” yaitu menggosok gigi dengan siwak.

Karena itu, al-Bukhari dalam Shahih (1/266) membuat bab khusus: “Bab Siwak pada Hari Jumat.”

Ibnul Munayyir berkata: “Karena hari Jumat dikhususkan dengan tuntutan memperindah penampilan lahiriah berupa mandi, bersih-bersih, dan memakai wewangian, maka sesuai pula membersihkan mulut yang merupakan tempat dzikir dan munajat, serta agar tidak mengganggu malaikat dan manusia.” (Fath al-Bārī 2/375).